View

Menampilkan semua 7 hasil

[L-A01] Nyoman Mandra

Rp 40.000

Sebagai seniman traditional, Nyoman Mandra dengan teguh mengikuti panggilan jiwanya. Pengapdiannya kepada pekerjaan seorang seniman traditional adalah sesuatu yang dikejarnya dengan sepenuh hati, sejak kecil. Inilah tugas yang diwarisi oleh para pendahulunya, misalnya pamannya, Nyoman DOgol, dan melanjutkan kerja yang telah ditekuni selema bergenerasi-generasi, sampai hari ini, di Desa Kemasan. Komitmennya kepada karier telah mengangkatnya menjadi tokoh penting, dan dia bahkan layak disebut maestro, seniman paling unggul dalam seni lukis klasik di Pulau Balikita tercinta. Kita semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada Nyoman Mandra, karena darinya kita dapat belajar tentang makna keluar-masuk tradisi, menyaksikan karya-karya unggulnya, dan mengapresiasi seni rupa Bali gaya Klasik.

[L-A03] Iconic – YA2017

Rp 100.000

Cara ungkap Yuswantoro lewat karya seninya relatif berbeda dibanding para seniman atau kelompok seniman lain. Setidaknya, sebagai amsal, dibanding dengan generasi seniornya yang 10 – 15 tahun di atasnya, terutama yang sempat terlibat atau “terimbas” Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Saya menduga Yuswantoro tidak cukup tertarik untuk menyerap kecenderungan kreatif kelompok GSRB (atau kelompok radikal lain dalam seni rupa) secara mentah atau apa adanya.

-Kuss Indarto

 

Saya tentu tidak ingin bilang belajar hal teknik tidak penting. yang saya mau katakan adalh Yuswantoro Adi natural. Tangannya luwes atau lemes alias terampil. Ia juga sangat cekatan bertukang. Kecakapannya ia warisi dari ayah kami yang bisa membuat berbagai mainan, menjahit, dan segala macam.

  • Yusi Avianto Pareanom

 

 

[L-A05] Yogya Annual Art #1, 2016

Rp 80.000

Special Artist : fadjar Sidik

Seniman :

Agus ‘baqul’ Purnomo, Agus TBR, Ampun Sutrisno, Anto Sukanto, Beatrix Hendriani Kaswara, Eko Didiyk (codit) Sukowati, Erianto, Erizal As, G. Prima Puspita Sari, Galuh Taji Malela Gintani Swastika, Giring Prihatyasono, hayatuddin, Heri Purwanto, Hilman Hendarsyah, I Gede Arya Sucitra, I Nengah Sujena, I Nyoman AGus Wijaya, I Nyoman ‘Ateng’ Adiana, I Nyoman Darya, I Putu Agus Suyadnya, Iqro Ahmad Ibrahim, Iwan Sri Hartoko, Karyadhi, Kuat, L. Surajiyo, Luddy Astaghis, M. Andi Dwi, Maslihar, Muji Harjo, Mulyo Gunarso, Panca DZ, Rio Sigit Baskoro, Robet Kan, Robi Fathoni, Ronald Apriyan, Ronald Efendi, Rudi ‘Atjeh’ D, Saftari, Sigit Bapak, Suharmanto, Sunardi St, Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini, Woro Indah Lestari, Yaksa Agus

 

Pameran berlangsung pada: 20 Mei – 20 Juli 2016, Bale Banjar Sangkring

[L-A06] Yogya Annual Art #2. 2017

Rp 80.000

Dalam Pameran YAA ini, kita mencoba membuat tradisi baru dalam penyelenggaraan Pameran Seni Rupa, yaitu dengan membuat semacam Holly Wall/Dinding Suci. Dinding seci sebagai sebuah penghargaan, tanda hormat diberikan untuk 1 karya maestro yang kita pilih dengan pertimbangan dedikasi dan kontribusi sang sang perupa pada perkembangan seni rupa Indonesia. pada kesempatan YAA#2 2017 memilih seorang tokoh perupa dan akademisi yaitu Subroto Sm. Kehadiran Subroto Sm ini akan mendampingi 39 karya seniman yang berpartisipasi dalam Pameran YAA#2 – BERGERAK

 

Seniman yang turut dalam Pameran YAA #2 2017

Special Artis ; Subroto Sm

Agus ‘Baqul’ Purnomo , Andi Wahono, AT. Sitompul, Ayu Arista Murti, Beatrix Hendriani Kaswara, Citra Sasmita, Dadi Setiyadi, Dedi Sufriadi, Eko Didyk (codit) Sukowati, Erianto, Erizal As, galuh Taji Malela, Gusmen Heriadi, Hayatuddin, Hono Sun, I Nyoman Agus Wijaya, I Nyoman ‘ateng’ Adiana, I nyoman Darya, I Putu Agus SUyadnya, I Putu Wirantawan, Iwan Sri hartoko, Iwan Yusuf, Joni ramlan, Luddy Astaghis, maslihar, Muji harjo, Mulyo Gunarso, Riduan, Rismanto, Robi fathoni, Ronald Apriyan, Rudi ‘Atjeh’ D , Suharmanto, Surajiya, taufik Ermas, Tommy Wondra, Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini, Willy Himawan, Yaksa Agus

Pameran Berlangsung : 15 Mei – 15 Junim 2017, Bale Banjar Sangkring

Browse wishlist
Quick View Tambah ke keranjang

[L-A07] Yogya Annual Art #3, 2018 – Positioning

Rp 80.000

Eunoia Garis dan Warna

34 perupa yang terlibat pada pameran YAA #3 Positioning Bale Banjar Sangkring, agaknya lewat lukisan terbaru, tengah menuturkan pergerakannya di medan senirupa sepanjang tahun 2017. Terkesan mereka bergerak secara mandiri. Sebagian bergerak intens menyoal ruang. tapi lebih banyak yang berani bergerak dan lincah menjalin komunikasi, se raya mendobrak batasan kaku seni rupa. Hingga 10 September 2017, tiba-tiba mereka mendapat pengalaman sama, pengalaman kehilangan, salah satu maestro seni rupa Indonesia, I nyoman Gunarsa wafat. perasaan duka dan simpati segera mereka sampaikan via jejaring sosial. sedangkan rasa hormat, ucapan terima kasih dan apresiasi tinggi, mereka wujudkan pada pameran YAA #3 kali ini, yang mengambil tema positioning. Satu legacy berupa lukisan dari sang maestro dipajang pada tembok kehormatan Bale Banjar Sangkring sepanjang pameran ini berlangsung. Legacy kedua berupa kutipan, sejatinya kutipan itu adalah landasan konsep kreatif Nyoman Gunarsa, yang acap disebut ritme.

Seniman yang berpameran :

 

Bale Banjar Sangkring

Ahmad Sobirin, AIdi Yupri, AT. Sitompul, Ayu Arista Murti, Choerodin Roadyn, Citra Sasmita, Dadi Setiadi, Decki ‘Leos’ Firmansah, Eko Didyk (codit) Sukowati, Erianto, gatot Indrajati, Hayatuddin, Hono Sun, I Nyoman Adiana, I Wayan Arnata, I Wayan Novianto, I Wayan Sudarna Putra, Iwan Sri Hartoko, Iwan yusuf, Luddy Astaghis, Maslihar, Mulyo Gunarso, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (NPAAW), Patek Sutrisno, Putu Sastra Wibawa, Riduan, Rismanto, Robi Fathoni, Sigit raharjo, Suharmanto, Theresia Agustina Sitompul, Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini, I wayan Kun Adiyana, Yaksa Agus.

 

Sangkring Art Space

Aan Arief, Agus kamal, Anggar Prasetyo, Dipo Andy, Djoko Pekik, Eduard Pop, F Sigit Santoso, Galam Zulkifili, Hari Budiono, I Ketut Susena, I Ketut Tenang, I Made Mahendra mangku, I Made Toris Mahendra, I Made Wianta, I Made Wiradana, I Nyoman Darya, I Wayan Cahya, Joni ramlan, Jumaldi Alfi, Nyoman Erawan, Pande Ketut Taman, Pandu Pribadi, Pupuk Daru Purnomo, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Siti Adiyati, Titoes Libert, Yunizar, Yuswantoro Adi, Zhang Kexin.

 

Sangkring Art Project

Camelia Mitasari Hasibuan, Dede Cipon, Dewa Gede Suyudana Sudewa, Diana Puspita Putri, I Made SUrya Subratha, I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Piki Suyersa, I Wayan Yusa Dirgantara, Ignasius Dicky Takndare, Lingga Ami Lisdianto, Luh Pande Sendat Wangi, M. Fadhil Abdi, Oktaviyani, Oky Antonius, Ridho Rizki, Rika Ayu, Triana Nurmaria, Setsu.

 

Lorong Sangkring

Alit Ambara

 

Outdoor Area

Dedy Maryadi, I Nyoman Agus Wijaya, Khusna Hardiyanto, Rizal Kedthes, Ostheo Andre, Yusuf Dilogo

 

Wall Art

Rujiman

 

[L-A15] Sangkring Art Space

Rp 80.000

IJOL : In Justify Our Love

merupakan pameran berkait dengan upaya delapan perupa untuk memenuhi ajakan mempresentasikan karya visual terbaru mereka di Sangkring Art Space. Mula-mula hanya kalimat Justify Our Love yang tertermaktub di dalam satu tulisan singkat, tak lebih dari satu halaman, penulis sodorkan kepada I Dewa Mafe Mustika, I Gusti Ngurah Udiantara, Made Sadnyana, Maslihar, Nyoman Adiana, Nyoman Darya, Robert Kan dan Wahyu Wiedyardini, sebagai semacam gagasan pembuka sehingga ke delapan sahabat itu bisa memulai proses berkarya. Baru kemudian kami mengajak Ida Fitri yang diantaranya diharapkan membuat tulisan pengalamannya melihat bagaimana proses berkarya delapan perupa tersebut, bahkan sebelum kain kanvas terpsang rapi pada spanram.