View

Menampilkan 1–9 dari 43 hasil

[Buku] Adu Domba 2015 – 2018

Rp 90.000

Mengapa memilih adu domba sebagai sebuah payung gagasan? Adalah sitem masyarakat agrikultur yang melahirkan tipe idiom demikian. sejenis ungkaoan yang mengiaskan nama-nama hewan atau tumbuhan yang lekat dengan dunia hidup warganya. Adu domba, cenderung dipahami dengan nilai makna yang “miring”, terutama dalam ranah wacana politis, mungkin karena domba tergolong sebagai hewan ternak yang tak berdaya, hal yang lebih gayut di sini adlah upaya redefinisi dan pemahaman ulang atasnya agar tercapai signifikansi yang beda, yang produktif. Artinya, mereka yang berperan serta dalam program Adu DOmba ini adalah mereka yang telah berhasil membuktikan diri sebagai seniman yang berdaya, yang sanggup berlaga dalam kolaborasi.

 

Ini adalah kompilasi dokumentasi dari Projek Pameran Adu Domba yang digelar secara berkala di Sangkring Art, keseluruhannya ada 10 projek yang berlangsung dari tahun 2015 sampai 2018.

 

Penulis : Kris Budiman

Jumlah Halaman: 120 halaman

Tahun Produksi :

 

[Buku] Carita Pawitra, Jelajah Candi-candi di Gunung Penanggungan

Rp 150.000

Gunung Penanggungan dianugerahi keajaiban alamiah dan kultural. Selama berabad-abad ia telah diberi makna sebagai sebuah ruang sakral. Formasi konsentris Penanggungan secara alamiah tersusun bak sebuah mandala: ia serupa daigram yang mempresentasikan kesatuan tatanan kosmis dan psikis. TIdak mengherankan apabila di sana banyak dijumpai bangunan-bangunan sakral, baik berupa candi, altar, gua pertapaan, maupun pertirtaan. Dengan konndisi alam yang unik dan kepadatan temuan budayanya, Penanggungan jelas merupakan titik konsentrasi kehidupan spiritual, sebuah pusat orientasi religius pada zamannya. Buku ini ditujukan terutama kepada khalayak umum yang lebih teratarik pada dunia pelancongan dan petualangan. Signifikasi arkeologis situs Penanggungan memang tidak terlalu ditonjolkan, alih-alih justru jurnal dan kisah perjalanan itu sendiri yang dihiasi dengan serangkaian foto yang memukau.

Buku ini disusun oleh :

Ani Himawati, Apriadi Ujiarso, Dyah Merta, Ida Fitri, Ismail Lutfi, Kris Budiman, Lydia Kieven, Ninuk Retno Raras, Putu Sutawijaya, Transpiosa Riomandha, Yeni Mada

[Buku] Dolanan

Rp 30.000

Sejarah hidup Abu Bakar yang panjang 9lahir 1925) niscaya merupakan riwayat tentang kesederhanaan dan kebersahajaan. Ya, Oom Abu, demikian ia biasa dipanggil, merupakan sosok sederhana di tengah pergaulan hidupnya yang sejatinya sangat kompleks.

Ia menekuni dunia kesenian, khususnya seni rupa, dengan hasrat yang melupa dan sangat bekerja keras.Sambil berkesenian, ia bekerja profesional di sejumlah tempat di Jakarta. Tercatat, ia pernah bekerja di kedutaan negara sahabat dan bergabung dengan sebuah majalah rohani sebagai perancang cover. Analog dengan dunia kerjanya yang beragam, dalam mencipta karya rupa pun ia mencoba segala hal.

Saya tidak pernah membatasi diri pada aliran seni rupa tertentu”, katanya suatu waktu. Hampir semua media, teknik, gaya, ia coba; mulai cetak saring, grafis, sablon, batik, sampai melukis model secara konvensional. Hasilnya memang memuaskan, setidaknya jika dilihat rekam jejaknya berpameran di dalam dan di luar negeri. Tapi, ternyata bagi Oom Abu pameran dan segala yang menyangkut harga lukisan, bukanlah ukuran kepuasan, Maka iapun menarik langkah pelan-pelan dari kemungkinan “hiruk-pikuk” dunia seni rupa — dan dunia perkotaan juga — dengancara pindah ke desa. di pedalaman Jawa Tengah. Tentu sambil terus gelisah, beraktifitas dan berkarya.

Pada Akhirnya, kita melihat bahwa pergulatan hidup seorang Abu Bakar yang kaya dan panjang, terefleksikan dalam buku Dolanan yang sederhana tapi kaya parodi dan ironi ini, tidak ruwet, gampang dicerna, cocok dengan spirit “Dolanan” yang diangkatnya. Boleh dikatakan ini salah satu dokumentasi hidup yang lahir dari saripati renungan “Seorang Pinggiran”.

 

Frame Publishing

[Buku] Homo Mojokerto

Rp 35.000

Pameran Seni RUpa ‘Trowulan Art : Homo Mojokertensis’ ini digelar oleh Sangkring Art Project (SAP) sebagai satu bagian dari upaya kami memberikan ruang yang memungkinkan paraperupa dan publik seni melakukan kerja kesenian yang lebih eksploratif berikut produksi pengetahuan dan wacana baru. Spirit pameran ini sekaligus menjadi satu kerja dari vivi kami membangun jembatan antara semangatr lokal untuk membangun jaringan di kancah global.

Penulis: Abdul Malik, Kris Budiman, Putu Sutawijaya

Seniman yang berpameran : Hadi Sucipto, Iskandar, Joni ramlan, Ribut Sumiyono,

 

[Buku] How Brutu Are You?

Rp 50.000

BOL BRUTU –

akronim dari geromBOLan pemBuRu baTU – merupakan kumpulan beberapa orang yang menyukai blusukan atau jalan-jalan ke situs-situs, candi-candi, makam-makam, dan bangunan-bangunan tua. Satu-satunya kesukaan bersama kita yang gak berhubungan langsung dengan batu adalah kita juga suka kuliner bersama.

[Buku] Maecenas Potehi dari Gudo – Toni Harsono

Rp 120.000

Kehidupan pahit sebagai anak Sehu dan sebagai Sehu, membuat Tok Hong Kie melarang putra-putrinya untuk berkecimpung di dunia Potehi. Sbelum meninggal ia berpesan agar anaknya yakni Tok Hok Lay (Toni Harsono) tidak menjadi Sehu seperti ayah dan kakeknya.

Pesan itu diingat oleh Toni, ia memang tidak menjadi Sehu pertunjukan Potehi, ia menjadi seorang pengusaha dan hidup berlimpah dari toko emas BERKAH miliknya. Namun pesona boneka Potehi, yang memukaunya sejak kanak-kanak tidak bisa lekang dari hatinya. Ia tetap ingin berkecimpung di dalam pergulatan Potehi yang pernah mengalami masa suram di jaman Orde Baru. Potehi yang dikungking, POtehi yang terpasung, membuatnya bergerak untuk upaya menghidupkan, melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan itu.

Toni mengabdikan dirinyan untuk kembali membuat  jaya pertunjukan Potehi, ia menjadi penyokong utama secara finansial atas berlangsungann dinamika pertunjukan Potehi. Jabatannya sebagai ketua kelentheng Hong SanKiong memudahkannya untuk menyediakan fasilitas tempat dan kesempatan berpentas. Toni Harsono sesungguhnya merupakan Maecenas bagi dagub kehidupan seni pertunjukan Potehi.

 

Penulis

Dra. Hirwan Kuardhani Mhum