View

Menampilkan 1–9 dari 20 hasil

[BK-P] Buku (Mencari Telur Garuda)

Rp 200.000

Buku ini menghidupkan ingatan bersama dan sekaligus menggelitik kritisme bagaimana garuda ditafsir dan diperlakukan sejak dalam proses menjadi lambang negara. Membaca buku ini tiba-tiba saja masing-msing kita (di)dekat(kan) kembali pada memory masa silam dengan (visual) Garuda dirumah atau gapura kampung di suatu masa yang jauh. Ada yang tertawa bercampur ironi saat melihat bagaimana penampakan sang garuda itu dalam kehidupan harian, baik dalam lingkup birokrasi negara maupun lingkup sekitar (suku) bangsa di berbagai kampung di perkotaan maupun pedesaan

Ukuran tertutup 20 x 20
Isi 326 halaman

[K-A01] Yogya Annual Art #1, 2016

Rp 95.000

Special Artist : fadjar Sidik

Seniman :

Agus ‘baqul’ Purnomo, Agus TBR, Ampun Sutrisno, Anto Sukanto, Beatrix Hendriani Kaswara, Eko Didiyk (codit) Sukowati, Erianto, Erizal As, G. Prima Puspita Sari, Galuh Taji Malela Gintani Swastika, Giring Prihatyasono, hayatuddin, Heri Purwanto, Hilman Hendarsyah, I Gede Arya Sucitra, I Nengah Sujena, I Nyoman AGus Wijaya, I Nyoman ‘Ateng’ Adiana, I Nyoman Darya, I Putu Agus Suyadnya, Iqro Ahmad Ibrahim, Iwan Sri Hartoko, Karyadhi, Kuat, L. Surajiyo, Luddy Astaghis, M. Andi Dwi, Maslihar, Muji Harjo, Mulyo Gunarso, Panca DZ, Rio Sigit Baskoro, Robet Kan, Robi Fathoni, Ronald Apriyan, Ronald Efendi, Rudi ‘Atjeh’ D, Saftari, Sigit Bapak, Suharmanto, Sunardi St, Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini, Woro Indah Lestari, Yaksa Agus

 

Pameran berlangsung pada: 20 Mei – 20 Juli 2016, Bale Banjar Sangkring

 

– 88 halaman
– Harga : Rp. 80.000,-

Penulis:
Kris Budiman
Yuswantoro Adi

[K-A02] Yogya Annual Art #2. 2017

Rp 95.000

Dalam Pameran YAA ini, kita mencoba membuat tradisi baru dalam penyelenggaraan Pameran Seni Rupa, yaitu dengan membuat semacam Holly Wall/Dinding Suci. Dinding seci sebagai sebuah penghargaan, tanda hormat diberikan untuk 1 karya maestro yang kita pilih dengan pertimbangan dedikasi dan kontribusi sang sang perupa pada perkembangan seni rupa Indonesia. pada kesempatan YAA#2 2017 memilih seorang tokoh perupa dan akademisi yaitu Subroto Sm. Kehadiran Subroto Sm ini akan mendampingi 39 karya seniman yang berpartisipasi dalam Pameran YAA#2 – BERGERAK

 

Seniman yang turut dalam Pameran YAA #2 2017

Special Artis ; Subroto Sm

Agus ‘Baqul’ Purnomo , Andi Wahono, AT. Sitompul, Ayu Arista Murti, Beatrix Hendriani Kaswara, Citra Sasmita, Dadi Setiyadi, Dedi Sufriadi, Eko Didyk (codit) Sukowati, Erianto, Erizal As, galuh Taji Malela, Gusmen Heriadi, Hayatuddin, Hono Sun, I Nyoman Agus Wijaya, I Nyoman ‘ateng’ Adiana, I nyoman Darya, I Putu Agus SUyadnya, I Putu Wirantawan, Iwan Sri hartoko, Iwan Yusuf, Joni ramlan, Luddy Astaghis, maslihar, Muji harjo, Mulyo Gunarso, Riduan, Rismanto, Robi fathoni, Ronald Apriyan, Rudi ‘Atjeh’ D , Suharmanto, Surajiya, taufik Ermas, Tommy Wondra, Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini, Willy Himawan, Yaksa Agus

Pameran Berlangsung : 15 Mei – 15 Junim 2017, Bale Banjar Sangkring

 

– 76 halaman
– Harga : Rp. 80.000,-

Penulis:
Suwarno Wisetrotomo

[K-A04] Sangkring Art Space

Rp 95.000

IJOL : In Justify Our Love

merupakan pameran berkait dengan upaya delapan perupa untuk memenuhi ajakan mempresentasikan karya visual terbaru mereka di Sangkring Art Space. Mula-mula hanya kalimat Justify Our Love yang tertermaktub di dalam satu tulisan singkat, tak lebih dari satu halaman, penulis sodorkan kepada I Dewa Mafe Mustika, I Gusti Ngurah Udiantara, Made Sadnyana, Maslihar, Nyoman Adiana, Nyoman Darya, Robert Kan dan Wahyu Wiedyardini, sebagai semacam gagasan pembuka sehingga ke delapan sahabat itu bisa memulai proses berkarya. Baru kemudian kami mengajak Ida Fitri yang diantaranya diharapkan membuat tulisan pengalamannya melihat bagaimana proses berkarya delapan perupa tersebut, bahkan sebelum kain kanvas terpsang rapi pada spanram.

 

– 112 Halaman
– Harga : Rp. 80.000,-
Penulis:
Apriadi Ujiarso
Ida Fitri
Putu Sutawijaya

[K-A05] Matahati

Rp 350.000

MATAHATI merupakan kumpulan seniman Malaysia, mendokumentasikan amalan mereka yang meluas, katalog MATAHATI yang eponim itu merupakan rujukan lengkap yang menceritakan amalan seni mereka sejak penubuhan kumpulan pada tahun 1989 hingga kini menumpu pada karya mereka serta perkembangan sebagai seniman dalam konteks kontemporary malaysia. MATAHATI memberi wawasan yang unik tentang kumpulan itu memlalui pandangan komunity disekeliling mereka dengan teks oleh penulis, kurator dan seniman.

[K-A06] Adu Domba 2015 – 2018

Rp 90.000

Mengapa memilih adu domba sebagai sebuah payung gagasan? Adalah sitem masyarakat agrikultur yang melahirkan tipe idiom demikian. sejenis ungkaoan yang mengiaskan nama-nama hewan atau tumbuhan yang lekat dengan dunia hidup warganya. Adu domba, cenderung dipahami dengan nilai makna yang “miring”, terutama dalam ranah wacana politis, mungkin karena domba tergolong sebagai hewan ternak yang tak berdaya, hal yang lebih gayut di sini adlah upaya redefinisi dan pemahaman ulang atasnya agar tercapai signifikansi yang beda, yang produktif. Artinya, mereka yang berperan serta dalam program Adu DOmba ini adalah mereka yang telah berhasil membuktikan diri sebagai seniman yang berdaya, yang sanggup berlaga dalam kolaborasi.

 

Ini adalah kompilasi dokumentasi dari Projek Pameran Adu Domba yang digelar secara berkala di Sangkring Art, keseluruhannya ada 10 projek yang berlangsung dari tahun 2015 sampai 2018.

 

– 118 halaman
– Harga : Rp. 90.000,-

Penulis:
Apriadi Sudiarso
Elok Jessica
Ida Fitri
Joko Apridinato
Kris Budiman
Rain Rosidi

 

 

[K-A07] Nyoman Mandra

Rp 50.000

Sebagai seniman traditional, Nyoman Mandra dengan teguh mengikuti panggilan jiwanya. Pengapdiannya kepada pekerjaan seorang seniman traditional adalah sesuatu yang dikejarnya dengan sepenuh hati, sejak kecil. Inilah tugas yang diwarisi oleh para pendahulunya, misalnya pamannya, Nyoman DOgol, dan melanjutkan kerja yang telah ditekuni selema bergenerasi-generasi, sampai hari ini, di Desa Kemasan. Komitmennya kepada karier telah mengangkatnya menjadi tokoh penting, dan dia bahkan layak disebut maestro, seniman paling unggul dalam seni lukis klasik di Pulau Balikita tercinta. Kita semestinya bersyukur dan berterima kasih kepada Nyoman Mandra, karena darinya kita dapat belajar tentang makna keluar-masuk tradisi, menyaksikan karya-karya unggulnya, dan mengapresiasi seni rupa Bali gaya Klasik.

 

– 38 halaman
– Harga : Rp. 40.000,-

Penulis:
Nyoman Gunarsa
Adrian Vickers

[K-A08] Yogya Annual Art #3, 2018 – Positioning

Rp 95.000

Eunoia Garis dan Warna

34 perupa yang terlibat pada pameran YAA #3 Positioning Bale Banjar Sangkring, agaknya lewat lukisan terbaru, tengah menuturkan pergerakannya di medan senirupa sepanjang tahun 2017. Terkesan mereka bergerak secara mandiri. Sebagian bergerak intens menyoal ruang. tapi lebih banyak yang berani bergerak dan lincah menjalin komunikasi, se raya mendobrak batasan kaku seni rupa. Hingga 10 September 2017, tiba-tiba mereka mendapat pengalaman sama, pengalaman kehilangan, salah satu maestro seni rupa Indonesia, I nyoman Gunarsa wafat. perasaan duka dan simpati segera mereka sampaikan via jejaring sosial. sedangkan rasa hormat, ucapan terima kasih dan apresiasi tinggi, mereka wujudkan pada pameran YAA #3 kali ini, yang mengambil tema positioning. Satu legacy berupa lukisan dari sang maestro dipajang pada tembok kehormatan Bale Banjar Sangkring sepanjang pameran ini berlangsung. Legacy kedua berupa kutipan, sejatinya kutipan itu adalah landasan konsep kreatif Nyoman Gunarsa, yang acap disebut ritme.

Seniman yang berpameran :

 

Bale Banjar Sangkring

Ahmad Sobirin, AIdi Yupri, AT. Sitompul, Ayu Arista Murti, Choerodin Roadyn, Citra Sasmita, Dadi Setiadi, Decki ‘Leos’ Firmansah, Eko Didyk (codit) Sukowati, Erianto, gatot Indrajati, Hayatuddin, Hono Sun, I Nyoman Adiana, I Wayan Arnata, I Wayan Novianto, I Wayan Sudarna Putra, Iwan Sri Hartoko, Iwan yusuf, Luddy Astaghis, Maslihar, Mulyo Gunarso, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (NPAAW), Patek Sutrisno, Putu Sastra Wibawa, Riduan, Rismanto, Robi Fathoni, Sigit raharjo, Suharmanto, Theresia Agustina Sitompul, Wahyu ‘Adin’ Wiedyardini, I wayan Kun Adiyana, Yaksa Agus.

 

Sangkring Art Space

Aan Arief, Agus kamal, Anggar Prasetyo, Dipo Andy, Djoko Pekik, Eduard Pop, F Sigit Santoso, Galam Zulkifili, Hari Budiono, I Ketut Susena, I Ketut Tenang, I Made Mahendra mangku, I Made Toris Mahendra, I Made Wianta, I Made Wiradana, I Nyoman Darya, I Wayan Cahya, Joni ramlan, Jumaldi Alfi, Nyoman Erawan, Pande Ketut Taman, Pandu Pribadi, Pupuk Daru Purnomo, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Siti Adiyati, Titoes Libert, Yunizar, Yuswantoro Adi, Zhang Kexin.

 

Sangkring Art Project

Camelia Mitasari Hasibuan, Dede Cipon, Dewa Gede Suyudana Sudewa, Diana Puspita Putri, I Made SUrya Subratha, I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Piki Suyersa, I Wayan Yusa Dirgantara, Ignasius Dicky Takndare, Lingga Ami Lisdianto, Luh Pande Sendat Wangi, M. Fadhil Abdi, Oktaviyani, Oky Antonius, Ridho Rizki, Rika Ayu, Triana Nurmaria, Setsu.

 

Lorong Sangkring

Alit Ambara

 

Outdoor Area

Dedy Maryadi, I Nyoman Agus Wijaya, Khusna Hardiyanto, Rizal Kedthes, Ostheo Andre, Yusuf Dilogo

 

Wall Art

Rujiman

Penulis:
Alit Ambara
Apriadi Ujiarso
Dwi S. Wibowo
Huhum Hambilly
Kris Budiman
Yaksa Agus

– 116 halaman
– Harga : Rp. 80.000,-